Minggu, 13 Desember 2009

KREATIFITAS KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU

PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia di mana berbagai permasalahan tidak akan dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain bermanfaat bagi kehidupan manusia di satu sisi, perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut.
Berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama masyarakat terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya.
Pendidikan merupakan sarana yang paling penting dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia dan suatu kebutuhan yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia untuk mencerdaskan kehidupan dan membentuk manusia yang terampil di bidangnya. Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah merupakan tempat pengembangan nilai dan sikap yang diberikan secara lengkap kepada generasi muda untuk membantu perkembangan bakat dan kemampuan yang dimiliki agar bermanfaat bagi kehidupnya.
Pendidikan dalam menghasilkan anak-anak bangsa yang berkualitas, handal dan terampil dalam bidangnya dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa di antaranya adalah faktor sarana prasana yang memadai, guru, dan kepala sekolah untuk mengelola lembaga pendidikan, mendidik, membimbing, serta mengarahkan guru dan mengarahkan siswa dalam proses pembelajaran.
Pendidikan akan berhasil bila pendidikan itu dikelola dengan baik memiliki arah dan tujuan yang jelas, sehingga hasil lulusan itu tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Dalam mengelola pendidikan tersebut dibutuhkan pemimpin pendidikan yang profesional, kreatif dan dapat menjalankan visi, misi, serta tuajuan yang akan dicapai, dalam hal ini adalah kepala sekolah. Secara umum, untuk meningkatkan mutu sekolah, untuk mencapai standar kompetensi harus ditunjang oleh banyak pendukung di antaranya adalah kepala sekolah dan tenaga kependidikan profesional. Oleh karena itu, diperlukan kepala sekolah dan tenaga kependidikan yang profesional sebagai pemenuhan Sumber Daya Manusia yang baik yang memiliki kompetensi yang mendukung tugas dan fungsinya dalam menjalankan proses pembelajaran pada satuan pendidikan. Hubungan yang baik antara kepala sekolah dan guru merupakan salah satu harmonisasi pembelajaran pada sekolah tersebut.
Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang sangat penting. Terlaksana atau tidaknya suatu program pendidikan dan tercapai atau tidak tujuan pendidikan, sangat tergantung kepada kecakapan dan policy kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan.
Menurut Yusak Burhanuddin, kepala sekolah harus mampu menguasai tugas-tugasnya dengan baik. Kepala sekolah harus bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan sekolah, mengatur proses belajar mengajar, mengatur hal-hal yang menyangkut kesiswaan, personalia, sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pelajaran, ketatausaahan, keuangan serta mengatur hubunagan masyarakat. Selain itu juga wewenang untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan pendidikan dalam lingkungan sekolah yang dipimpinnya.
Selain itu, bahwa kepala sekalah juga harus kreatif dan mampu memiliki ide-ide dan inisiatif yang menunjang perkembangan sekolah.

Dewasa ini satuan pendidikan atau sekolah pada semua jenjang dan jenis dihadapkan pada persaingan mutu yang ketat dan manajemen sekolah yang kompleks, sehingga pemahaman yang akurat tentang tujuan serta metode oleh setiap kepala sekolah untuk mencapai tujuan adalah amat penting. Kepala sekolah harus mengenal kebutuhan para guru.
Dengan adanya fungsi ganda seorang kepala sekolah yaitu sebagai kepala sekolah juga sebagai administrasi. Maka perlu adanya suatu kreativitas dalam diri seorang kepala sekolah agar ia memiliki kepedulian yang kontinu terhadap tantangan yang ada di dunia pendidikan dan tidak tertinggal oleh suatu pembaruan dalam dinamika pendidikan yang kompetitif.
Sebagai pemimpin pendidikan, seorang kepala sekolah dalam melakukan pembinaan terhadap sekolah yang dipimpinnya harus benar-benar bijak. Ia tidak boleh hanya memfokuskan segala kebijakan pada segi terjadinya peningkatan kualiitas pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan saja, tetapi juga harus memperhatikan segi sikap dan perilaku dari para siswanya secara seimbang. Karena betapapun tingginya pengetahuan dan canggihnya keterampilan yang dimiliki oleh setiap lulusan dari suatu sekolah tidak akan pernah memberikan kontribusi apa-apa bagi pembangunan bangsa jika pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya tidak dilandasi oleh sikap dan perilaku atau moral yang adil, bahkan justru akan bersifat destruktif. Moral yang baik sangat penting ditanamkan kepada siswa, Akhlak atau moral merupakan salah satu unsur yang paling.
Selain itu juga kepala sekolah sebagai seorang pemimpin seharusnya dalam praktek sehari-hari harus berusaha memperhatikan dan mempraktekan dari peranan kepemimpinan, fungsi dan tanggung jawab sebagai kepala sekolah. Kinerja guru akan meningkat tergantung dari sistem pengelolaan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai pemimpin mempunyai fungsi dan tugas sangat berat. Fungsinya sebagai pemimpin pendidikan untuk mengembangkan dan meningkatkan kinerja guru harus dilaksanakan dengan optimal yang dapat ditunjang oleh kemampuan dan keterampilan kepala sekolah dalam mengelola lembaga pendidikan.
Kepala sekolah yang mempunyai kreativitas yang tinggi akan dapat meningkatkan kemampuan yang dimilikinya secara optimal. Dengan demikian akan menghasilkan gagasan dalam memecahkan masalah dan menciptakan hal-hal yang baru yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan-kegiatan di sekolah, sehingga kepala sekolah akan selalu mencari cara agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal dan sekolah tersebut akan bermutu.
Keberhasilan dan kegagalan pemimpin ditentukan oleh gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin, dalam hal ini kepala sekolah. Gaya kepemimpinan tampak dalam kehidupan sehari-hari, dalam membangkitkan semangat yang tinggi, cara kerjasama yang harmonis dan memberikan motivasi terhadap kinerja guru. Apabila gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam pengelolaan pendidikan dengan tepat dan mempunyai kreativitas yang tinggi, maka akan mempunyai pengaruh yang baik bagi kinerja guru, staf dan siswa. Sebaliknya apabila gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam suatu lembaga kurang tepat dan tidak mempunyai kreativitas yang tinggi, maka akan berpengaruh yang tidak baik pula bagi guru, staf dan siswa.
Selain kepala sekolah, pihak lain yang mempunyai peranan penting dalam duania pendidikan adalah guru. Guru merupakan salah satu komponen dalam proses pembelajaran, guru memiliki posisi yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran dalam merancang, mengelola, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Ia juga memiliki kedudukan sebagai figur sentral dalam meningkatkan proses belajar mengajar. Di tangan para gurulah terletak kemungkinan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan belajar mengajar di sekolah, serta di tangan mereka pulalah bergantungnya masa depan karir peserta didik yang menjadi tumpuan para orang tua. Maka diharapkan melalui proses ini peserta didik mempunyai sejumlah kepandaian dan kecakapan tentang sesuatu yang dapat membentuk kematangan pribadinya.
Namun, realitas yang terjadi ternyata kualitas guru pada saat ini masih banyak dibicarakan orang, atau masih saja dipertanyakan, baik di kalangan para pakar pendidikan maupun di luar pakar pendidikan. Selama dasawarsa terakhir ini hampir setiap hari, media massa cetak baik harian maupun mingguan memuat berita tentang guru. Ironisnya, berita-berita tersebut banyak yang cenderung melecehkan posisi guru, baik yang sifatnya menyangkut kepentingan umum sampai kepada hal-hal yang sifatnya sangat pribadi, sedangkan dari pihak guru sendiri nyaris tidak mampu membela diri.
Masyarakat kadang-kadang mencemoohkan dan menuding guru tidak berkompeten, dan tidak berkualitas, manakala putra-putrinya dapat bisa menyelesaikan persoalan yang ia hadapi sendiri atau memiliki kemampuan tidak sesuai dengan harapannya.
Kalangan bisnis (industri) pun memprotes para guru karena kualitas lulusan dianggap kurang memuaskan bagi kepentingan perusahaan mereka. Tentu saja tuduhan dan protes dari berbagai kalangan tersebut dapat menurunkan citra guru.
Sikap dan perilaku masyarakat tersebut memang bukan tanpa alasan, karena memang ada sebagian oknum guru yang menyimpang dari kode etiknya. Anehnya lagi kesalahan sekecil apa pun yang diperbuat guru mengundang reaksi yang begitu hebat di masyarakat. Hal ini dapat dimaklumi karena dengan adanya sikap demikian menunjukkan bahwa memang guru seyogianya menjadi anutan bagi masyarakat di sekitarnya.
Tenaga guru adalah salah satu tenaga kependidikan yang mempunyai peran sebagai faktor penentu keberhasilan tujuan suatu organisasi selain tenaga kependidikan lainnya, karena guru yang langsung bersinggungan dengan peserta didik untuk memberikan bimbingan yang muaranya akan menghasilkan tamatan yang diharapkan. Untuk itu kinerja guru harus selalu ditingkatkan.
Kinerja atau prestasi guru (performance) merupakan hasil yang dicapai guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu. Kinerja guru akan baik jika guru telah melaksanakan unsur-unsur yang terdiri dari kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam melaksanakan pengajaran, kerjasama dengan semua warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan obyektif dalam membimbing siswa, serta tanggung jawab terhadap tugasnya.
Oleh karena itu untuk membatu para guru agar lebih bijak dan berkompeten dalam bidangnya, peranan kepala sekolah sebagai pemimpin sangat penting, terutama memberikan solusi dalam pemecahan masalah.
1. Kreativitas
a. Pengertian Kreativitas
Dalam era globalisasi saat ini, kreativitas merupakan pendukung kerja yang penting, karena kemajuan suatu negara sangat tergantung pada sumbangan kreatif yang berupa ide-ide baru dan teknologi baru dari masyarakat. Setiap individu memiliki potensi kreatif dalam bertingkah laku, yang secara luas dapat diartikan bahwa setiap orang mempunyai potensi kreatif dalam hal berpikir, bertindak serta berasa. Potensi kreatif ini berbeda dengan aktualisasi, kualitas, maupun kuantitasnya pada masing-masing orang, tergantung pada faktor-faktor tertentu, seperti halnya kontrol diri
Istilah kreativitas ditinjau dari etimologi berasal dari bahasa Inggris yaitu create, yang artinya “mencipta”. Menurut Tim Penyusun Kamus Pusat Pengembangan Bahasa mengartikan bahwa kreativitas adalah “kemampuan untuk mencipta, daya cipta”. Kreativitas biasanya diartikan dengan kemampuan untuk mencipta suatu produk baru. Ciptaan ini tidak seluruhnya baru, mungkin saja gabungan, atau kombinasi.
Menurut Mend seperti yang dikutip oleh Hasan Langgulung, “kreativitas diartikan proses yang dilakukan oleh seseorang yang menyebabkan ia mencipta sesuatu yang baru baginya”.
Benaldi Sutadipura, mengemukakan kreativitas adalah kesanggupan untuk menemukan sesuatu yang baru dengan jalan mempergunakan daya hafal, fantasi dan imajinasi.
Beberapa definisi Kreativitas menurut para ahli sebagai berikut:
1. Mayron S. Allen, dalam Phsycodynamis Synthesis menyatakan, “Kreativitas adalah perumusan-perumusan dari makna melalui sintesis”.
2. John W. haefele dalam Creativity and innovation mengatakan: “Kreativitas dirumuskan sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang bernilai sosial”.
3. Georg J. Seidel dalam Crisis of Creativity, mengatakan: “Kreativitas adalah kemampuan untuk menghubungkan dan mengaitkan, kadang-kadang dengan cara yang ganjil, namun mengesankan dan ini merupakan dasar pendayagunaan kreativitas dari daya rohani manusia dalam bidang atau lapangan manapun”.
4. Jaques hadamid, dalam An Essay on The Mathematical Field, mengatakan: “Jelaslah bahwa penemuan atau kreasi baik dalam matematika maupun dalam bidang lain terjadi dengan menggabungkan ide-ide”.
Dari beberapa definisi di atas bahwa kreativitas merupakan kemampuan mental dan berbagai jenis keterampilan manusia yang dapat melahirkan pengungkapan yang unik, berbeda, orisinil, sama sekali baru, indah, efisien, tepat sasaran, tepat guna.
Sedangkan menurut David Campbell mengartikan kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya:
a. Baru (Novel), inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan.
b. Berguna (usefull), lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi masalah, mendatangkan hasil lebih baik atau banyak.
c. Dapat dimengerti (understandable): hasil yang sama dapat dimengerti dan dibuat lain waktu.
Menurut Utami Munandar, “harus diakui bahwa memang sukar menentukan suatu definisi yang operasional dari kreativitas, karena kreativitas merupakan konsep majemuk dan multidimensional, akan tetapi, Utami yang berpendapat bahwa kreativitas sebagai salah satu ciri anak berbakat mengemukakan bahwa:
a. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada.
b. Kreativitas (berfikir kreatif atau divergen) adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia mengemukakan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keseragaman jawaban.
c. Secara personal kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitasi), dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengkolaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dijelaskan bahwa Kreativitas adalah kemampuan mental dan berbagai jenis keterampilan khas manusia yang dapat melahirkan pengungkapan yang unik, berbeda, orisinil, sama sekali baru, efisien, tepat sasaran dan tepat guna. Kreativitas meliputi keseluruhan jajaran pemikiran yang kreatif dan kepetualangan pada setiap bidang-bidang penemuan ilmu pengetahuan, imajinasi dan ingin tahu, penyelidikan, percobaan dan penemuan.
Kreativitas merupakan kemampuan untuk menampilkan alternatif dari cara kerja yang sudah ada atau dari prosedur kerja yang biasa dilakukan. Mengarah pada penggunaan cara-cara kerja yang lain dari biasanya dan mendukung pencapaian efektivitas, efisiensi, serta produktivitas kerja. Individu yang kreativitasnya tinggi berusaha secara terus-menerus untuk menemukan dan mencoba cara-cara kerja yang lain yang lebih efektif dan efisien, serta dimaksudkan untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi.
Kreativitas dalam tesis ini ditekankan pada kreativitas yang dilakukan oleh kepala sekolah untuk berfikir, berdaya cipta dan melakukan kreasi-kreasi baru menyongsong hari yang lebih baik, meraih keberuntungan dan keberhasilan yang diharapkan.

b. Ciri-Ciri Kreativitas dan Orang Kreatif
Para ahli psikologi sudah lama terpesona oleh kreativitas manusia-manusia kreatif. Pada umumnya para ahli psikologi itu sependapat bahwa orang-orang kreatif mempunyai ciri-ciri tertentu yang sama.
Ciri-ciri itu secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu:
1. Ciri-Ciri Pokok: kunci melahirkan ide, gagasan, ilham, pemecahan, cara baru, penemuan.
2. Ciri-Ciri yang Memungkinkan: yang membuat mampu mempertahankan ide-ide kreatif sekali sudah ditemukan tetap hidup.
3. Ciri-Ciri Sampingan: tidak langsung berhubungan dengan penciptaan atau menjaga agar ide-ide yang sudah ditemukan tetap hidup, tetapi kerap mempengaruhi perilaku orang-orang kreatif.

Adapun Ciri-Ciri Pokok tersebut, yaitu:
1. Kelincahan mental berfikir dari segala arah.
Kemampuan mental adalah kemampuan untuk bermain-main dengan ide-ide, gagasan, konsep, lambang, kata, angka dan khususnya melihat hubungan-hubungan yang tak biasa ide-ide, gagasan dan sebagainya itu. Berfikir dari segala arah adalah kemampuan untuk melihat masalah atau perkaradari berbagai arah, segi dan mengumpulkan berbagai fakta yang penting dan mengarahkan fakta iut pada masalah atau perkara yang dihadapi.
2. Kelincahan mental berfikir ke segala arah. Berfikir ke segala arah adalah kemampuan untuk berfikir dari satu ide, gagasan, menyebar ke segala arah segi.
3. Fleksibilitas konseptual.
Fleksibilitas konseptual merupakan kemampuan untuk secara spontan mengganti cara memandang, pendekatan, kerja yang tak jalan.
4. Orisinalitas. Orisinalitas adalah kemampuan untuk mengelurkan ide, gagasan, pemecehan, cara kerja yang tidak lazim, yang jarang, bahkan mengejutkan.
5. Lebih menyukai kompleksitas daripada simplisitas. Dari penyelidikan ditemukan bawa pada umumnya, orang-orang kreatif lebih menyukai kerumitan daripada kemudahan, memilih tantangan dari keamanan, cenderung pada yang banyak tali temalinya dari yang sederhana.
6. Latar belakang yang merangsang. Orang-orang kreatif biasanya sudah lama hidup dalam lingkungan dan orang-orang yang dapat menjadi contoh dalam bidang tulis-menulis, seni, studi, penelitian dan pengembangan ilmu serta penerapannya, dan dalam suasana ingin belajar, ingin bertambah tahu, ingin maju dalam bidang-bidang yang digemuli.
7. kecakapan dalam banyak hal. Para manusia kreatif pada umumnya mempunyai banyak minat dan kecakapan dalam berbagai bidang.

Ciri-Ciri yang Memungkinkan
Ciri-ciri yang memungkinkan, yang perlu untuk mempertahankan gagasan-gagasan kreatif yang sudah dihasilkan meliputi:
1. Kemampuan untuk bekerja keras
2. Berfikir mandiri
3. Pantang menyerah
4. Mampu berkomunikasi dengan baik
5. Lebih tertarik pada konsep daripada segi-segi kecil
6. Keinginan tahu intelektual
7. Kaya humor dan fantasi
8. Tidak segera menolak ide atau gagasan baru
9. Arah hidup yang mantap


Ciri-Ciri Sampingan
Ciri-ciri sampingn, mempengaruhi perilaku orang-orang kreatif. Banyak orang memiliki ciri-ciri membuat mereka tak teramalkan, sulit untuk bergaul dan hidup mereka, sukar ditiru. Ciri-ciri itu tidak perlu untuk kreativitas, tetapi rupanya menjadi akibat sampingan dari kreativitasan mereka. Adapun ciri-ciri itu adalah:
1. Tidak mengambil pusing apa yang dipikirkan orang lain
2. Kekacauan Psikologis
Ciri-ciri sampingan itu tidak ada hubungan apa-apa dengan ciri-ciri pokok yang ada pada orang-orang kreatif. Ciri-ciri itu merupakan akibat kekuatan kepribadian orang-orang kreatif dan situasi batin yang diakibatkan oleh kreativitas. Ciri-ciri baik yang berhubungan bakat kreatif dikembangkan dan ciri-ciri buruk yang kebanyakan merupakan akses atau akibat samping dari bakat itu dapat dikurangi. Dengan demikian bakat kreatif menjadi lebih produktif bukan hanya dalam bidangnya, tetapi juga dalam seluruh kehidupan.

c. Langkah-Langkah Pengembangan Kreativitas
Dalam usaha melahirkan gagasan-gagasan yang perlu bagi pemimpin, biasanya dilalui suatu proses yang merupakan langkah-langkah yang bertalian antara satu dengan lainnya. Langkah-langkah tersebut adalah:
a. Mengembangkan sikap yang merangsang lahirnya gagasan
b. Mengembangkan kepekaan problem
c. Menghimpun bahan-bahan mentah yangdibutuhkan
d. Menampung gagasan yang mengulir
e. Mengusahakan inkubasi
f. Mengusahakan lahirnya gagasan baru
Menurut David Campbell sebagaimana disadur oleh A.M. Mangunharjana mengemukakan bahwa langkah-langkah pengembangan kreativitas adalah sebagai berikut:
1. Persiapan (Preparation)
2. Konsentrasi (Consentration)
3. Inkubasi (Incubation)
4. Ilumnasi (Illuminasi)
5. Verifikasi/Produksi (Verification/Production)
Persiapan, yaitu meletakkan dasar, mempelajari latar belakang perkara, seluk-beluk dan problematikanya. Persiapan untun kreativitas itu kebenyakan harus dilakukan atas dasar untuk minat.
Konsentrasi, yaitu sepenuhnya memikirkan, masuk luluh, terserap dalam perkara yang dihadapinya. Orang-orang kreatif biasanya serius, perhatiannya tercurah dan pikirannya terpusat pada hal yang mereka kerjakan.
Inkubasi, tahap ini merupakan tahap mengambil waktu untuk meninggalkan perkara yang sedang dihadapi, masalah yang hendak dipecahkan.
Iluminasi adalah tahap mendapatkan ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian, cara kerja dan jawaban baru, pada waktu taap iluminasi itu datang, merupakan suatu hal yang sangat menggembirakan.
Verifikasi/Produksi. Tahap ini adalah akhir dari suatu awal ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian. Tetapi dari tahap tersebut betapapun memuaskan barulah akhir dari suatu awal kalau ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian cara kerja baru sudah ditemukan, maka harus diwujudkan.

2. Kepemimpinan Kepala Sekolah
a. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan merupakan salah satu fungsi manejemen yang sangat penting untuk mencapai tujuan organisasi. Dengat amat berat seolah-olah kepemimpinan dipaksa menghadapi berbagai macam faktor seperti: Stuktur atau tatanan, koalisi, kekuasaan, dan kondisi lingkungan organisasi. Sebaliknya kepemimpinan rasanya dapat dengan mudah menjadi satu alat penyelesaian yang luar biasa terhadap persoalan apa saja yang sedang menimpa suatu organisasi. Sekolah adalah salah satu organisasi yang kompleks dan unik sehingga memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai pemimpin hendaknya harus memahami dan menguasai arti dari sebuah kepemimpinan dalam lembaga pendidikan.
Istilah pemimpin dalam bahasa Arab disebut “Imamah, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut Leadership”. Ngalim Purmanto, mengartikan kepemimpinan adalah setiap sumbangan terhadap terwujudnya dan tercapainya tujuan-tujuan kelompok. Harold Kootz, mengartikan kepemimpinan sebagai “pengaruh seni atau proses mempengaruhi orang-orang sehingga mereka akan berusaha mencapai tujuan kelompok dengan kemauan dan antusias” . Sedangkan menurut Ngalim Purwanto, kepemimpinan sebagai “tindakan atau perbuatan di antara perorangan dan kelompok yang menyebabkan baik orang seorang atau kelompok menuju ke arah tujuan tertentu” . A. Dale Timpe, mendefinisikan kepemimpinan sebagai ”seni mempengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara kepatuhan, kepercayaan, hormat dan kerjasama yang bersemangat dalam mencapai tujuan bersama”. Sedangkan menurut Hadar Nawawi, kepemimpinan adalah “proses dimana seorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan mengawasi pikiran-pikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain” . Selanjutnya S. P Siagian mengatakan kepemimpinan adalah “motor penggerak daripada sumber-sumber dan alat-alat (resource) yang tersedia bagi suatu organisasi.
Kepemimpinan adalah suatu kekuatan penting dalam rangka pengelolaan sebuah lembaga pendidikan. Oleh sebab itu, kemampuan kepemimpinan secara efektif merupakan kunci untuk menjadi seorang manajer yang efektif, karena esensi kepemimpinan adalah kepatuhan dari bawahannya. Sedangkan dalam kaitannya dengan TQM didefinisi yang diberikan oleh Goetsch dan Davis adalah bahwa “kepemimpinan merupakan kemampuan untuk membangkitkan semangat orang lain agar bersedia dan memiliki tanggung jawab total terhadap usaha mencapai atau melampaui tujuan-tujuan organisasi” . Sedangkan kepala sekolah menurut Soebagyo Atmodiwiro adalah “seorang guru (jabatan fungsional) yang diangkat untuk menduduki jabatan struktural (kepala sekolah). Di sekolah ia adalah seorang pejabat yang ditugaskan untuk mengelola sekolah”.
Kepemimpinan kepala sekolah adalah kemampuan yang dimiliki oleh kepala sekolah dalam menggerakkan, membimbing, memotivasi dan mengarahkan para guru dalam suatu lembaga pendidikan yang menjadi tempat menerima dan memberi untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi, mengarahkan, mendorong, mengajak dan menggerakkan orang lain bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
Kepemimpinan bila dikaitkan dengan pendidikan, maka akan muncul konsep kepemimpinan pendidikan. Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, mengartikan pendidikan sebagai “daya upaya untuk mewujudkan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter, pikiran) dan tubuh anak untuk memajukan kehidupan anak didik selaras dengan dunianya” . Menurut Husna Asmara, kepemimpinan pendidikan adalah “segenap kegiatan dalam usaha mempengaruhi personil di lingkunan pendidikan padasituasi tertentu agar mereka melalui usaha kerja sama, mau bekerja dengan penuh bertanggung jawab dan ikhlas demi terciptanya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan” . Sedangkan menurut Hadari Nawawi, kepemimpinan pendidikan adalah, “proses menggerakkan, mempengaruhi, memerikan motivasi dan menggairahkan orang-orang dalam organisasi atau lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya” .
Maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi, mengarahkan dan menggerakkan orang lain secara bersama melaksanakan kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Setipa pemimpin terutama pemimpin pendidikan benar-benar harus berusaha baik pikiran maupun perbuatan semaksimal mungkin untuk memajukan lembaganya. Karena pemimpin merupakan salah satu yang terpenting dalam mencapai visi, misi dan tujuan.

b. Sumber-sumber Kepemimpinan
Sumber-sumber yang memungkinkan seseorang dapat menjadi pimpinan adalah sebagai berikut :
1. Sifat-sifat bawaan, sifat ini seperti, ketangkasan, keberanian, kecepatan mengambil keputusan dan yang lainnya.
2. Tradisi, kepemimpinan menurut tradisi ini ada dua kemungkinan yaitu:
a. Menurut azas keturunan, seperti anak raja menjadi raji, turunan bangsawan menjadi bangsawan dan sebagainya.
b. Menurut umur, seperti orang yang paling tua umurnya atau yang paling lama dinasnya denagan kata lain senioritas.
3. Kekuatan magis, dalam sejarah banyak terdapat orang-orang yang muncul sebagai pemimpin karena mempunyai kekuatan magis.
4. Prestige, yaitu pengalaman-pengalaman sebagai pemimpin dalam suatu lapangan pekerjaan memberi kepadanya prastige kepemimpinan, oleh karena itu, jika orang tersebut pindah tugas atau pindah kerja mungkin ia akan menjadi pemimpin kembali.
5. Kebutuhan yang kondisioner, seperti dalam suatu lingkunagan atau kelompok sesorang ingin menjadi pemimpin, dan kebetulan orang lain dalam lingkungan atau kelompok tersebut menyerahkan untuk ia menjadi pemimpin.
6. Kecakapan khusus, dalam hal ini karena ia adalah satu-satunya orang dalam kelompok tersebut yang mempunyai keahlian misalnya kesenian, maka ialah yang menjadi pemimpin kesenian.
Jika melihat perkembangan masa sekarang ini, sumber yang paling penting dari kepemimpinan adalah sifat ketangkasan, keberanian, kecepatan dalam mengambil keputusan, kecakapan khusus serta mempunyai moral yang baik.
Moral yang baik merupakan pemimpin yang dibutuhkan masa sekarang ini. Dan moral merupakan faktor yang terpenting yang harus dimiliki oleh seoran pemimpin, bahkan pemimpin harus mampu menjadi teladan yang baik bagi bawahannya. Misi Rasullah tercapai salah satu faktornya adalah karena Rasallallah memiliki sifat teladan yang baik bagi umatnya, Seperti dalam surat al Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَة ... (الأَحْزَاب: 21)

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasullah itu suri tauladan yang baik bagimu…….” (Al Ahzab:21)

c. Syarat-Syarat Kepemimpinan
Untuk memangku jabatan pemimpin pendidikan yang dapat melaksanakan tugas-tugas pimpinan dan memainkan peranan-peranan kepemimpinan yang sukses, maka padanya dituntut pemenuhan persyaratan-persyaratan jasmaniah, rohaniah yang baik dan bahkan persyaratan status sosial ekonomis yang layak. Akan tetapi di sini akan ditemukakan persyaratan-persyaratan kepribadian yang menyangkut aspek jasmaniah dan rohaniah, yang meliputi:
a. Persyaratan kepemimpinan yang berdasar Pancasila yaitu yang mematuhi semua sila dan Pancasila yang meliputi:
1. Sila ketuhanan yang Maha Esa
2. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Sila kesatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan
5. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Di samping itu, dibutuhkan prasyarat-prasyarat kualitas kemampuan pribadi sebagai berikut; berwibawa, jujur, terpercaya, bijaksana, mengayomi, berani mawas diri, mampu melihat jauh ke depan, berani dan mampu mengatasi kesulitan, bersikap wajar, tegas dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil,sederhana, penuh pengabdian kepada tugas, berjiwa besar dan mempunyai sifat ingin tahu.
b. Persyaratan Kepemimpinan Menurut Beberapa Ahli
Banyak Penulis seperti Mc Nerney, Stogdill, Terry, Erwin Schall, Ordwdy Tead, Dr. Le Bon, Ki Hajar Dewantoro, Drs. Mardjiin Syam mengemukakan syarat-syarat kepribadian yang berbeda-beda tentang para pemimpin termasuk pemimpin pendidikan, yang meliputi:
1. Karakter dan moral yang tinggi
2. Semangat dan kemampuan intelek
3. Kematangan dan keseimbangan emosi
4. Kematangan dan penyesuaian sosial
5. kemampuan pendidikan
6. Kemampuan mendidik-mengajar
7. kesehatan dan penampakan jasmaniah
Demikian antara lain persyaratan-persyaratan yang diminta kepada calon-calon pemimpin dan pimpinan pendidikan yang menyangkut aspek-aspek kepribadian pemimpin yang diharapkan. Jika para pemimpin mempunyai sifat-sifat di atas tentu ia mampu memimpin bawahanya dan visi, misi serta tujuannyapun akan terwujud.

d. Gaya-Gaya Kepemimpinan
Berdasarkan konsep, sifat, sikap dan cara-cara pemimpin itu melaksanakan dan mengembangkan kegiatan pimpinan dalam lingkungan kerja yang dipimpinnya, maka dapatlah diklasifikasikan kepemimpinan pendidikan ada tiga gaya pokok kepemimpinan, yaitu: gaya otoriter, gaya laissez faire dan gaya demokratis.
Gaya-gaya kepemimpinan sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat sehari-hari seperti halnya perusahaan, pemerintah, keluarga, lembaga-lembaga sosial dan juga pendidikan.
Gaya menurut bahasa adalah “kekuatan, sikap, irama dan bentuk ragam”. Sedangkan kepemimpinan adalah “perihal pemimpin” . Menurut J. Riberu gaya kepemimpinan adalah “cara pemimpin membawa diri sebagai pemimpin, cara ia berbgerak dan tampil dalam menggunakan kekuasaannya” . Ngalim Purwanto mengartikan “gaya kepemimpinan sebagai cara atau teknik seseorang dalam menjalankan suatu kepemimpinan” .
Menurut Drs. Jimmy L. Gaol, dalam bukunya “Materi Pokok Manajemen Kepegawaian” membagi gaya kepemimpinan sebgaiberikut \:
1. Gaya Kharismatis
2. Gaya Paternalistis dan Maternalistis
3. Gaya Militeristis
4. Gaya Otokratis
5. Gaya Laissez Faire
6. Gaya Populistis
7. Gaya Administratif
8. Gaya demokratis

1. Gaya Kharismatis
Gaya pemimpin kharismatis ini memiliki daya tarik dan pembawaan yang luar biasa, sehingga ia mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar. Dia dianggap mempunyai kekuatan ghaib dan kemampuan-kemampuan yang super human, yang diperolehnya dari kekuatan yang Maha Kuasa. Totalitas kepribadian pemimpin itu memancarkan mengaruh daya tarik yang teramat besar.

2. Gaya Paternalistis
Gaya kepemimpinan yang kebapakan, dengan sifat-sifat antara lain sebagai berikut:
a. Dia menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak atau belum dewasa.
b. Dia bersikap terlalu melindungi
c. Jarang dia memberi kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan sendiri
d. Dia hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk berinisiatif
e. Dia tidak memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembagkan fantasinya
f. Selalu bersikap maha tahu dan maha besar
Gaya kepemimpinan yang maternalistis juga mirip dengan gaya yang paternalistis, hanya dengan perbedaan, adanya sikap over protective atau terlalu melindungi yang lebih menonjol dan disertai kasih sayang yang berlebih-lebihan.

3. Gaya Militeristis
Gaya kepemimpinan ini berbeda sekali dengan seorang pemimpin militer (seorang tokoh militer). Adapun sifat-sifat pemimpin yang militeristis antara lain:
a. Lebih banyak menggunakan sistem perintah atau komando terhadap bawahannya
b. Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahannya
c. Menyenangi formalitas dan upacara-upacara ritual yang berlebih-lebihan
d. Menurut adanya disiplin kerasdan kaku dari bawahannya
e. Tidak menghendaki saran-saran dan kritikan-kritikan dari bawahannya
f. Komunikasi hanya berlangsung searah saja




4. Gaya Otokratis
Otokratis berasal dari perkataan autos berarti sendiri dan kratos berarti kekuasaan, kekuatan. Jadi otokrat berarti penguasa absolut.
Kepemimpinan otokratis itu mendasarkan diri pada kekuasaan lain dan paksaan yang selalu harus dipatuhi. Pimpinannya selalu berperan sebagai pemain tunggal atau one man show. Setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahannya dantidak pernah memberikan informasi mendetail mengenai rencana dan tindakan yang harus dilakukan. Semua pujian dan kritikan terhadap segenap bawahannya diberikan atas pertimbangan pemimpin sendiri.

5. Gaya Laissez Faire
Pada gaya kepemimpinan laissez faire ini pada hakekatnya bukanlah seorang pemimpin dalam pengertian yang sebenarnya. Karena semua pekerjaan dan tanggung jawab diserahkan kepada bawahannya tanpa terkontrol, tanpa disiplin dan masing-masing bekerja sendiri dengan irama dan tempatnya masing-masing mau menang sendiri. Dia tidak mempunyai kewibawaan dan tidak bisa mengontrol anak buahnya dalam melaksanakan koordinasi kerja, dan tidak berdaya sama untuk menciptakan suasan kerja yang kooperatif, sehingga organisasi yang dipimpinnya menjadikacau balau atau kocar-kacir.
6. Gaya Populistis
Professor Peter Worsley dalam bukunya The Third World mendefinisikan kepemimpinan populistis sebagai “kepemimpinan yang dapat membangunkan solidaritas rakyat dan sikap yang berhati-hati terhadap penindasan, penghisapan, dan penguasaan kekuatan-kekuatan asing (luar negeri). Kepemimpinan ini berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisional, lebih banyak dan kurang mempercayai batuan serta dukungan kekuatan-kekuatan luar negeri (asing).

7. Gaya Administratif
Kepemimpinan gaya administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan administrasi yang efektif. Sedangkan para pemimpinnya terdiri dari pribadi-pribadi yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Dengan demikian dapat dibangun sistem administrasi dan birokrasi yang efisien untuk memerintah, untuk menetapkan integritas bangsa pada khususnya dan usaha-usaha pembangunan pada umumnya. Dengan kepemimpinan administratif ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi, industri dan manajemen modern dari perkembangan sosial di tengah masyarakat.

8. Gaya Demokratis
Kepemimpinan demokratis memberikan bimbingan yang efsien kepada para bawahannya. Terdapat koordinasi pekerjaan dari semua bawahan, bersedia mengakui keahlian para spesialis dalam bidangnya masing-masing dan mampu memanfaatkan bawahannya seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
Dengan demikian pemimpin demokratis bisa berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat dinamisme dan kerja sama demi mencapai tujuan-tujuan daripada organisasi dengan cara yang paling cocok dengan jiwa dan situasinya.
Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin melakukan kegiatannya dalam membimbing, mengarahkan an mempengaruhi para bawahnnya dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Setiap pemimpin tentunya mempunyai gaya tersendiri, oleh karena itu, seorang pemimpin harus paham betul dengan kondisi bawahanya atau yang dipimpinnya agar mampu menerapkan gaya yang sesuai dengan apa yang dipimpinnya dan akhirnya mampu membawa lembaganya ke arah yang lebih maju.

e. Ciri-Ciri Kepemimpinan
Sebagaimana telah diuraikan di atas memang tidak mudah untuk menentukan ciri-ciri dan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pribadi seorang pemimpin dan tiap pemimpin yang mempelajarinya memperoleh hasil pengamatan dan mempunyai pendapat yang tidak sama. Menurut Dr. W. A. Gerungan dalam bukunya yang berjudul Psikologi Sosial telah menyebut beberapa ciri-ciri yang dimiliki kebanyakan pemimpin. Bahwa tiap-tiap pemimpin paling sedikit mempunyai tiga macam ciri, yaitu:
a. Pengamatan Sosial
Yaitu suatu kemampuan untuk melihat dan mengerti gejala-gejala yang timbul dalam masyarakat atau penghidupan sehari-hari, khususnya mengenai perasaan-perasaan, tingkah laku, keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan para anggota sesama kelompok.
b. Kecakapan Berfikir Abstrak
Yaitu mempunyai otak yang amat cerdas, artinya memiliki intelejensi yang tinggi, karena berfikir abstrak sebenarnya merupakan salah satu dari intelejensi. Kecakapan berfikir abstrak dibutuhkan oleh seorang pemimpin untuk melihat, menafsirkan dan menilai kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam kelompok dan keadaan umum di luar kelompok dalam hubungannya degan apa yang menjadi tujuan kelompok. Dengan kata lain, seorang pemimpin harus dapat melihat dan menganalisis gejala-gejala yang timbul dalam masyarakat serta dapat memanfaatkannya untuk mencapai tujuan kelompok.
c. Keseimbangan Emosi
Orang yang mudah naik darah, suka marah dan membuat keributan, menandakan emosinya tidak mantap, tidak memiliki keseimbangan emosional. Jangan memimpin orang lain, menenangkan diri saja tidak mampu. Seorang pemimpin harus dapat menciptakan rasa tenang dan aman kepada mereka yang dipimpin. Hal ini hanya mungkin dilakukan, apabila ia sendiri bersikap tenang dan aman, karena memiliki keseimbangan emosi.
Pada diri pemimpin haru sada kepribadian yang harmonis, jiwa yang mantap, emosi yang stabil dan keinsyafan yang mendalam akan aspirasi, perasaan, kebutuhan dan cita-cita para anggota kelompoknya. Kemantapan bukan berarti jiwa yang statis dan beku, tetapi suatu keseimbangan yang dapat bergerak ke mana-mana, dinamis, tetapi dinamika yang stabil .
Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin itu paling tidak harus mempunyai tiga ciri tersebut dan memiliki wibawa serta memiliki kemampuan yang baik terhadap semua lapisan yang dipimpinnya.

f. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkah Laku Pemimpin
Meskipun beberapa orang pemimpin mungkin memiliki keahlian dan jabatan dalam pekerjaan yang sama, selalu kita lihat adanya perbedaan-perbedaan dalam sikap dan cara kepemimpinannya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang menentukan sikap dan tingkah laku pemimpin, antara lain:
1. keahlian dan pengetahuan yang dimiliki oleh pemimpin untuk menjalankan kepemimpinanya. Atau dengan istilah lain latar belakang pendidikan atau ijazah yang dimilikinya.
2. Jenis pekerjaan atau lembaga tempat pemimpin itu melaksanakan tugas jabatannya. Perilaku dan sikap seseorang yang sedang memimpin anak buah dalam kapal yang sedang tenggelam, tidak sama dengan prilaku dan sikap seorang guru yang sedang memimpin diskusi di dalam kelas.
Tiap organisasi atau lembaga yang tidak sejenis mempunyai visi, dan misi sertujuan yang berbeda, dan mencapai tujuannyapun tentu saja berbeda. Oleh karena itu, tiap jenis lembaga memerlukan dan sikap pimpinan yang berbeda pula.
3. Sifat-sifat kepribadian pemimpin. Kita mengetahaui Allah menciptakan manusia di muka ini dengan berbeda-beda, baik sifat, watak maupun kepribadiannya. Ada yang selalu dapat bersikap dan bertindak keras dan tegas, tetapi ada pula yang lemah dan kurang berani. Dengan adanya perbedaan-perbedaan watak dan kepribadian yang dimiliki orang masing-masing pemimpin meskipun beberapa orang pemimpin memiliki latar belakang pendidikan yang sama dan mempunyai tugas yang sejenis, karena berbeda watak dan kepribadianya, maka akan berbeda pula dalam menjalankan kepemimpinannya. Demikanlah, bagaimana watak dan sifat-sifat kepribadian seorang pemimpin turut menentukan bagaimana sikap dan prilakunya dalam menjalankan kepemimpinannya.
4. sifat-sifat kepribadian pengikut. Seseorang yang memimpin anak-anak kecil, berbeda dengan orang yang memimpin orang-orang dewasa atau orang-orang besar. Demikian pula memimpin orang buta huruf, tidak sama dengan memimpin orang yang cerdas. Sifat-sifat pribadi pengikut menentukan bagaiman sikap dan kebijaksanaan pemimpin.
Tentang sifat-sifat kepengikutan, yaitu mengapa dan bagaimana anggota kelompok menerima dan mau menjalankan perintah atau tugas-tugas yang diberikan oleh pemimpin, Drs. M. Ngalim Purwanto, di dalam bukunya mengutip pendapat Prof. Dr. H. Arifin Abdurrachman, yang mengemukakan bahwa ada lima macam kepengikutan yaitu:
a. kepengikutan karena naluri dan nafsu
b. kepengikutan karena tradisi dan adat
c. kepengikutan karena agama dan budi nurani
d. kepengikutan karena rasio, dan
e. kepengikutan karena peraturan hukum
Dengan pembagian lima macam kepengikutan itu, tidak berarti bahwa tiap anggota kelompok mau menerima dan menjalankan perintah atau tugas dari pimpinannya itu karena salah satu kepengikutannya saja. Di dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kepengikutan yang merupakan campuran dari beberapa macam kepengikutan tersebut di atas. Misalnya, kepengikutan karena rasio bercampur dengan kepengikutan peraturan hukum, atau kepengikutan agama bercampur dengan kepengikutan karena tradisi dan adat.
Untuk dapat menjalankan kepemimpinannya yang baik, dalam arti para anggota kelompok dapat mematuhi dan mentaati perintah serta menjalankan tugasnya dengan ikhlas dan sadar serta tidak merasa tertekan, sangat penting bagi seorang pemimpin untuk mengetahui dan mempelajari sifat atau tipe kepengikutannya yang ada pada bawahannya.
5. Sangsi-sangsi yang ada ditangan pemimpin. Kekuatan-kekuatan yang dimilki atau yang berdiri dibelakang pemimpin menentukan sikap dan tingkahlakunya. Sikap atau reaksi anggota kelompok dari seorang pemimpin yang mempunyai wewenang penuh akan lain jika dibandingkan dengan sikap atau reaksi anggota kelompok dari seorang pemimpin yang tidak atau kurang berwenang. Seorang guru yang baru ditunjuk sebagai penjabat pimpinan sekalah akan bertindak dan prilaku lain dengan seorang kepala sekolah yang telah resmi diangkat dengan surat keputusan dari atasan.



g. Peranan Pemimpin
Sebagaimana pendapat ahli ilmu jiwa bahwa peranan seorang pemimpin yang baik ada 13 macam, yaitu:
1. Sebagai pelaksana (executive)
Seorang pemimpin tidak boleh hanya memaksakan kehendak sendiri terhadap kelompoknya. Ia harus berusaha atau memenuhi kehendak dan kebutuhan kelompoknya, serta program atau rencana yang telah disepakati atau ditetapkan bersama-sama.
Sebagai perencana (planner)

2. Sebagai perencana (planner)
Seorang pemimpin yang baik harus pandai membuat dan menyusun perencanaan sehingga segala sesuatu yang diperbuatnya bukan secara ngawur saja, akan tetapi segala tindakan diperhitungkan serta bertujuan.
3. Sebagai seorang ahli (expert)
Seorang pemimpin harus mempunyai keahlian, terutama keahlian yang berhubungan dengan tugas jabatan kepemimpinan yang dipegangnya, dan lebih ideal lagi jika seorang pemimpin mempunyai keahlian yang lainnya.


4. Mewakili kelompok dalam tindakannya keluar (external group representative)
Seorang pemimpin harus menyadari, bahwa baik buruk tindakannya di luar kelompoknya akan mencerminkan baik buruk kelompok yang dipimpinnya.
5. Mengawasi hubungan antar anggota kelompok (controller of internal relationship)
Seorang pemimpin harus menjaga jangan sampai terjadi perselisihan, dan berusaha membangun hubungan yang harmonis dan menimbulkan semangat bekerja kelompok.
6. Bertindak sebagai pemberi ganjaran / pujian dan hukuman (purveyor of rewards and punishments)
Seorang pemimpin harus dapat membesarkan hati anggota-anggota yang giat bekerja dan banyak sumbangannya terhadap kelompoknya, dan harus berani untuk menghukum anggota yang berbuat merugikan kelompoknya, ini dilakukan demi kelancaran dalam menjalankan tugas.
7. Bertindak sebagai wasit dan penengah (arbitrator and mediator)
Dalam menyelesaikan perselisihan ataupun menerima pengaduan-pengaduan dari anggota-anggotanya, seorang pemimpin harus dapat bertindak tegas, tidak pilih kasih ataupun mementingkan salah satu golongan, dalam hal ini pemimpin harus adil dan bijaksana dalam menetapkan keputusan.
8. Merupakan bagian dari kelompok (exemplar)
Pemimpin bukanlah seorang yang bediri di luar atau di atas kelompoknya. Ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kelompoknya. Dengan demikian, segala tindakan dan usahanya hendaklah dilakukan demi tujuan kelompoknya.
9. Merupakan lambang kelompok (symbol of the group)
Sebagai lambang kelompok pemimpin hendaknya menyadari bahwa baik buruk kelompok yang dipimpinnya tercermin pada dirinya.
10. Pemegang tanggung jawab para anggota kelompoknya (surrogate for individual responsibilities)
Seorang pemimpin harus bertanggung jawab terhadap perbuatan anggota-anggotanya yang dilakukan atas nama kelompok.
11. Sebagai pencipta/ memiliki cita-cita (ideologist)
Seorang pemimpin hendaknya mempunyai suatu konsepsi yang baik dan realistis sehingga, dalam menjalankan kepemimpinannya, mempunyai garis yang tegas menuju arah yang telah dicita-citakan.
12. Bertindak sebagai seorang ayah (father figure)
Tindakan pemimpin terhadap bawahannya, hendaklah mencerminkan tindakan seorang ayah terhadap anak-anak/ anggota keluarganya.
13. Sebagai "kambing hitam" (escape goat)
Seorang pemimpin haruslah menyadari bahwa dirinya merupakan tempat melemparkan kesalahan atau keburukan yang terjadi di dalam kelompoknya. Oleh karena itu dia harus mau dan berani turut bertanggung jawab tentang kesalahan orang lain atau anggota kelompoknya.
Menyadari adanya peranan-peranan tersebut di atas, kiranya sangat bermanfaat bagi para pemimpin-pemimpin pendidikan dan bagi para kepala sekolah untuk menjalankan tugasnya dengan lebih berhati-hati dan menuju ke arah yang lebih baik, sehingga kelompok atau lembaga yang dipimpinnya sesuai dengan tujuan yang telah dirancanakan. Jika pemimpin terutama pemimpin lembaga pendidikan mampu berperan seperti perenan-peranan pemimpin di atas, maka ia akan mampu membawa lembaganya semakin maju dan bermutu.

h. Pengertian Kepala Sekolah
Pengertian Kepala Sekolah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “orang (guru) yang memimpin suatu sekolah, guru sekolah”.
Menurut Soebagyo Atmodiwiryo: “Kepala Sekolah adalah seorang guru jabatan fungsional yang diangkat untuk menduduki jabatan struktural (Kepala Sekolah) di sekolah. Ia (Kepala Sekolah) adalah peabat yang ditugaskan untuk mengelola sekolah”.
Menurut Daryanto “Kepala Sekolah merupakan personal yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan sekolah, ia mempunyai tanggung jawab dan wewenang penuh untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan pendidikan dalam lingkungan sekolah yang dipimpinnya dengan dasar Pancasila”.
Selain itu Kepala Sekolah adalah pemimpin pendidikan yang mempunyai peranan yang sangat besar dalam mengembangkan mutu pendidikan sekolah. Berkembangnya semangat kerja, kerjasama yang harmonis, minat terhadap perkembangan pendidikan, suasana kerja yang menyenangkan dan perkembangan mutu profesional di antara para guru banyak ditentukan oleh kualitas kepemimpinan kepala sekolah.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah memiliki posisi yang strategis untuk menjalankan kepemimpinan pendidikan yang efektif. Kepala Sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

i. Fungsi dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah
Di antara pemimpin pendidikan yang bermacam-macam jenis dan tingkatannya, kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang sangat penting karena kepala sekolah berhubungan langsung dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Ketercapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada kecakapan dan kebijaksanaan kepala sekolah sebagai salah satu pemimpin pendidikan. Hal ini karena kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.
Kegiatan lembaga pendidikan sekolah di samping diatur oleh pemerintah, sesungguhnya sebagian besar ditentukan oleh aktivitas kepala sekolahnya, kepala sekolah merupakan kunci kesuksesan sekolah dalam mengadakan perubahan. Sehingga kegiatan meningkatkan dan memperbaiki program dan proses pembelajaran di sekolah sebagian besar terletak pada diri kepala sekolah itu sendiri.
Dalam paradigma baru manajemen pendidikan, kepala sekolah sedikitnya harus mampu berfungsi sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator, motivator (EMASLIM).
1. Kepala Sekolah sebagai Edukator (Pendidik)
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai edukator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga pendidikan di sekolahnya. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan, serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik, seperti team teaching, moving class, dan mengadakan program akselerasi (acceleration program) bagi peserta didik yang cerdas di atas normal.
Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerjanya sebagai edukator, khususnya dalam peningkatan kinerja tenaga kependidikan dan prestasi belajar peserta didik dideskripsikan sebagai berikut:
Pertama; mengikutsertakan guru-guru dalam penataran-penataran, untuk menambah wawasan para guru. Kepala Sekolah juga harus memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Kedua; kepala sekolah harus berusaha menggerakkan tim evaluasi hasil belajar peserta didik untuk lebih giat bekerja, kemudian hasilnya diumumkan secara terbuka dan diperlihatkan di papan pengumuman. Hal ini bermanfaat untuk memotivasi para peserta didik agar lebih giat belajar dan meningkatkan prestasinya.
Ketiga; menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah, dengan cara mendorong para guru untuk memulai dan mengakhiri pembelajaran sesuai waktu yang telah ditentukan, serta memanfaatkannya secara efektif dan efisien untuk kepentingan pembelajaran.
2. Kepala Sekolah sebagai Manajer
Manajemen pada hakikatnya merupakan suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin dan mengendalikan usaha para anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber-sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif, memberi kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meingkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah.
Pertama, memeberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif dimaksudkan bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus mementingkan kerja sama dengan tenaga kependidikan dan pihak lain yang terkait dalam melaksanakan setiap kegiatan. Sebagai manajer kepala sekolah harus mampu memdayagunakan seluruh sumber daya sekolah dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan mencapai tujuan.
Islam juga sangat menganjurkan kerjasama dalam segala hal dengan syarat yang dilakukan sesuatu itu adal kebaikan. Hal ini sejalan dengan firman Allah:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَانُوْا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَان (الْمَائِدَة: 2)
Artinya: “Tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. (Al-Maidah:2)


Kedua, memberi kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, sebagai manajer kepala sekolah harus meningkatkan profesi secara persuasif dari hati ke hati. Dalam hal ini kepala sekolah harus bersikap demokratis dan memberikan kesempatan kepada seluruh tenaga kependidikan untuk mengembangkan secara optimal.
Ketiga, mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan, dimaksudkan bahwa kepala sekolah harus berusaha untuk mendorong keterlibatan semua tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan di sekolah (partisipatif).
3. Kepala Sekolah sebagai Administrator
Kepala Sekolah sebagai administrator memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagaia pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan dan pendokumenan seluruh program sekolah. Secara spesifik, kepala sekolah harus meiliiki kemampuan untuk mengelola kurikulum, mengelola administrasi peserta didik, mengelola administrasi personalia, mengelola administrasi sarana prasarana, mengelola administrasi kearsipan, dan mengelola administrasi keuangan. Kegiatan ini perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang produktivitas sekolah.
Dalam melaksanakan tugas-tugas di atas, kepala sekolah sebagai administrator, khususnya dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas sekolah, dapat dianalisis berdasarkan beberapa pendekatan, baik pendekatan sifat, pendekatan perilaku, maupun pendekatan situasional, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Meskipun demikikian, pada hakikatnya kepala sekolah harus lebih mengutamakan tugas-tugas (task oriented), agar tugas-tugas yang diberikan kepada setiap tenaga kependidikan bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Di samping berorientasi terhadap tugas, kepala sekolah juga haru menjaga hubungan kemanusiaan dengan para stafnya, agar setiap tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas dengan baik, tetapi merasa senang dalam melakukan tugasnya. Dengan demikian, efektivitas kerja kepala sekolah bergantung pada tingkat pembauran antara gaya kepemimpinan dengan tingakat menyenangkan dalam situasi tertentu, ketika para tenaga kependidikan melakukan tugas-tugas yang diembankan kepadanya.
Pada umumnya kepala sekolah menggunakan gaya gabungan antara hubungan pembagian tugas merupakan strategi kepala sekolah yang lebih mengutamakan setiap tugas dapat dilaksanakan dengan baik oleh masing-masing tenaga kependidikan, sedangkan gaya hubungan manusiawi lebih mengutamakan pemeliharaan manusiawi dengan masing-masing tenaga kependidikan.
4. Kepala Sekolah sebagai Supervisor
Kegiatan utama pendidikan di sekolah dalam rangka mewujudkan tujuannya adalah kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi sekolah bermuara pada pencapaian efesiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu tugas kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan.
Supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor, tetapi dalam sistem organisasi pendidikan modern diperlukan supervisor khusus yang lebih independen dan dapat meningkatkan objektivitas dalam pembinaan dan pelaksanaannya. Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan, pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya.
Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan kepala sekolah terhadap tenaga kependidikannya khususnya, disebut supervisi klinis, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran malalui pembelajaran yang efektif. Kepala sekolah sebagai supervisor harus diwujudkan dalam kemampuan menyusun dan melaksanakan program supervisi pendidikan, serta memanfaatkan hasilnya.
Keberhasilan kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh; 1). meningkatnya kesadaran tenaga kependidikan (guru) untuk meningktakan kinerjanya, dan 2). Meningkatnya keterampilan tenaga kependidikan (guru) dalam melaksanakan tugasnya.

5. Kepala Sekolah sebgai Leader (Pemimpin)
Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membina komunikasi dan arah dan mendelahasikan tugas.
Dalam implementasinya kepala sekolah sebagai leader dapat dianalisis dari tiga sifat kepemimpinannya, yaitu demokratis, otoriter, laissez faire. Ketiga sifat tersebut sering dimiliki secara bersamaan oleh seorang leader, sehingga dalam melaksanakan kepemimpinannya, sifat-sifat tersebut muncul secara situasional. Oleh karena itu kepala sekolah sebagai leader mungkin bersifat demokratis, otoriter, dan mungkin bersifat laissez faire.


6. Kepala Sekolah sebagai Inovator
Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai inovator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan yang inovatif. Kepala sekolah sebagai inovator tercermin dan cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktif, kreatif, delegatif, rasional, objektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, serta dapat beradaptasi dan fleksibel.
Kepala sekolah sebagai inovator harus mampu mencari, menemukan dan melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah. Gagasan baru tersebut misalnya moving class. Moving class adalah mengubah strategi pembelajaran dari pola kelas tetap menjadi kelas bidang studi, sehingga setiap bidang studi memiliki kelas tersendiri.
7. Kepala Sekolah sebagai motivator
Sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pngaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB).


j. Syarat-Syarat Kepala Sekolah
Krisis ekonomi, politik dan kepercayaan yang berkepanjangan yang melanda bangsa Indonesia telah membawa dampak hampir kepada seluruh aspek dan tatanan kehidupan. Walaupun banyak menimbulkan keterpurukan bagi bangsa dan rakyat, salah satu hikmah positif yang muncul adalah timbulnya pemikiran dasar yang menumbuhkan reformasi di berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Fokus utama reformasi ini adalah untuk menciptakan masyarakat yang madani dalam kehidupan pemerintahan, bermasyarakat dan bernegara yang memiliki nilai-nilai “Good Governance” yang menuntun nilai demokrasi dan sikap keterbukaan, kejujuran, keadilan, berorientasi pada kepentingan rakyat, serta bertanggung jawab (accountable) kepada rakyat.
Keinginan pemerintah untuk melaksanakan reformasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bidang pendidikan lebih nampak lagi dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Adapun substansi dari Undang-Undang Sisdiknas yang baru tersebut nampak dari visinya: terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu proaktif menjawab tantangan zaman. Salah satu upaya meningkatkan mutu pendidikan yang ada adalah melakukan pemberdayaan kepala sekolah. Hal ini karena kepala sekolah merupakan motor penggerak bagi sumber daya sekolah terutama guru-guru dan karyawan sekolah. Begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam proses pencapaian tujuan pendidikan, sehingga dapat dikatakan bahwa sukses tidaknya kegiatan sekolah sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepala sekolah itu sendiri. Segenap sumber daya harus didayagunakan sedemikian rupa. Para guru perlu digerakkan ke arah suasana kerja yang positif, menggairahkan dan produktif. Bagaimanapun guru merupakan input yang pengaruhnya sangat besar pada proses belajar. Demikian pula penataan fisik dan administrasi atau ketatalaksanaan perlu dibina agar disiplin dan semangat belajar yang tinggi bagi siswa. Ini semua mensyaratkan perlunya penerapan kepemimpinan pendidikan oleh seorang kepala sekolah.
Sebagai seorang pemimpin dalam organisasi pendidikan di sekolah, kepala sekolah harus memiliki berbagai persyaratan tertentu agar ia dapat menjalankan tugas dengan baik. Persyaratan yang dimaksud adalah:
1. Memiliki usaha yang sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang telah ditetapkan pemerintah.
2. Mempunyai pengalaman kerja yang cukup, terutama di sekolah yang sejenis dengan sekolah yang dipimpinnya.
3. Mempunyai sifat kepribadian yang baik, terutama sikap dan sifat-sifat kepribadian yang diperlukan bagi kepentingan pendidikan.
4. Mempunyai keahlian dan pengetahuan yang luas, terutama mengenai bidang-bidang pengetahuan pekerjaannya yang diperlukan bagi sekolah yang dipimpinnya.
5. Mempunyai ide dan inisiatif yang baik untuk kemajuan dan pengembangan sekolah.
Charles W. Boardman dkk, dalam bukunya “Democratic Supervision in Secondary School” menulis tentang syarat-syarat kemampuan pribadi yang diperlukan oleh kepala sekolah antara lain sebagai berikut:
1. Kemampuan mengorganisir dan membantu staf di dalam meeumuskan perbaikan pelajaran di sekolah dalam bentuk program yang lengkap.
2. Kemampuan untuk membangkitkan dan memupuk kepercayaan pada diri sendiri dari guru-guru dan anggota staf sekolah lainnya.
3. Kemampuan untuk membina dan memupuk kerjasama dalam memajukan dan melaksanakan program-program supervisi.
4. Kemampuan untuk mendorong dan membimbing guru-guru serta segenap staf sekolah lainnya agar mereka dengan sepenuh kerelaan dan tanggung jawab berpartisipasi secara aktif pada setiap usaha-usaha sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan sekolah itu sebaik-baiknya.
Dari kesemua pendapat di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa bagi jabatan kepala sekolah dibutuhkan orang-orang yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang meliputi pengetahuan, skill, dan kepribadian yang berkualitas tinggi, persyratan mana hanya dapat dimiliki oleh seseorang karena adanya perpaduan yang harmonis antara bakat, pendidikan dan latihan khusus serta pengalaman da program pertumbuhan jabatan yang berlangsung secara kontinyu dan sistematis bagi mereka.

k. Kepala Sekolah yang Kreatif
Agar suatu lembaga pendidikan dapat kreatif, orang-orang yang memimpinnya atau para kepala sekolah atau manjer harus menghargai pembaharuan-pembaharuan yang muncul.
Bahwa perubahan yang terjadi sepanjang hidup. Sekolah berkembang, artinya berubah menjadi lebih baik misalnya sekolah berubah menjadi lebih baik memiliki disiplin tinggi. Perubahan di sekolah selalu melibatkan banyak pihak, tenaga kependidikan, peserta didik, orangtua dan masyarakat sekitar. Tugas kepala sekolah adalah menjadi agen perubahan yang mendorong dan mengelola agar semua pihak termotivasi dan berperan aktif dalam perubahan tersebut.
Di bawah ini akan disajikan ciri-ciri kepala sekolah atau pemimpin yang mempu menciptakan organisasi yang kreatif, yaitu sebagai berikut:
1. Mau Menanggung Resiko
Kepala sekolah (pemimpin) yang mendorong kreativitas memberikan kebebasan luas kepada orang-orangnya. Dan siap kalau terjadi kesalahan dan sanggup menanggung kegagalan yang tak terelakan. Sebaliknya kepala sekolah (pemimpin) yang takut gagal akan membatasi kebebasan orang-orangnya dan tidak mengambil resiko.
2. Tenang dengan Ide yang Setengah Masak
Kepala sekolah yang kratif terbuka terhadap ide-ide, gagasan, atau pemijkiran baru, juga belum masak betul. Mereka mau mendengarkan, menerima dan mendukung gagasan, usul, impian orang-orangnya agar dikembangkan ampai masak untuk kemudian diolah bersama.
3. Mau Memperlonggar Kebijakan Organisasi
Kepala sekolah kreatif memiliki rasa untuk itu. Dia tidak mudah tidak memperdulikan aturan dan kebijakan organisasi, tetapi tahu kapan aturan itu dapat diperlonggarkan demi kebaikan organisasi yang besar.
4. Mampu Membantu Keputusan Cepat dan Tepat
Kalau kepada sekolah kreatif diajukan suatu ide atau gagasan baru dia mampu menanggapi dan mengambil keputusan dalam waktu yang relatif singkat. Kalau kepala sekolah yang tidak kreatif akan lama mempelajari dan baru membawa ide atau gagasan itu dalam rapat sekolah, dengan hasil: tidak tahu apa yang harus dibuat dengannya.
5. Pendengaran yang Baik
Kepala sekolah yang kreatif mendengarkan orang-orang dan mengembangkan usul-usul mereka. Dia tidak akan mencoba prosedur kerja atau mengambil kebijakan baru tanpa mendengar dahulu pendapat orang-orangnya.
6. Tidak Terpaku pada Kesalahan
Kepala sekolah yang kreatif lebih berorientasi ke masa depan daripada ke masa lampau. Dia tidak tenggelam, terpaku, terus teringat, atau terus mengisi kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi baik kesalahan sendiri maupun kesalahan orang lain.
7. Menyukai Pekerjaan
Kepala sekolah kreatif mempunyai pekerjaan mereka. Dia tidak merasa terjepit dalam tugas. Dia dapat menyerahkan tugas kepada orang-orangnya dengan penuh. Pada umumnya, kepala sekolah yang kreatif adalah orang yang penuh gairah, memberi semangat kepada orang-orangnya dan memberi hidup kepada lingkunganya. Dari pada mengurangi, dia menambah kekuatan di medan kerjanya.
Setiap kepala sekolah dalam memimpin lembaga harus mempunyai sifat-sifat kreatif di atas, karena salah satu yang sangat perperan untuk memajukan sekolah adalah kepala sekolah, oleh karena itu kepala sekolah harus kreatif demi merealisasikan tujuan, visi dan misinya.
Islam juga selalu mendorong agar umatnya kreatif. Banyak di antara ayat al Qur’an yang mendorong agar umatnya kreatif di antaranya, surat al Alaq ayat 1-5 yaitu:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الإِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ (5). (الْعَلَق:1-5)
Artinya: “Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2), Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha pemurah (3), Yang mengajar manusia dengan perantara kalam (4), Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (5),. (Al-Alaq: 1-5)


Ayat di atas merupakan wahyu pertama yang diterima Rasullah saw., yang menganjurkan umatnya untuk membaca, yaitu membaca yang tersurat dan yang tersirat. Memahami apa yang sedang terjadi dan akan terjadi dengan memperhatikan gejala alam. Di samping itu wahyu yang pertama ini juga mengandung maksud agar manusia menggunakan mata lahir dan mata batin, untuk melihat jauh ke depan dan mempersiapkan segala sesuatu untuk hari nanti (Akhirat). Alalh berfirman :
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوْا الله إِنَّ الله خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْن. (الْحَشَر : 18)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setipa diri mempersiapkan kehidupan untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al- Hasyr: 18)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa setiap orang yang beriman hendaklah melakukan-melakukan kreativitas-kreativitas dalam kehidupan temasuk juga dalam bidang pendidikan untuk menyongsong hari esok atau kehidupan yang akan datang (akhirat)
3. Kinerja Guru
a. Pengertian Kinerja Guru
Banyak batasan yang diberikan para ahli mengenai istilah kinerja. Walaupun berbeda dalam tekanan rumusannya, namun secara prinsip tampaknya sejalan mengenai proses pencapaian hasil.
Istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang). Sehingga dapat didefinisikan bahwa kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kinerja diartikan sebagai sesuatu yang ingin dicapai, prestasi yang diperlihatkan dan kemampuan seseorang. Sedangkan Hadari Nawawi mengartikan kinerja sebagai prestasi seseorang dalam suatu bidang atau keahlian tertentu, dalam melaksanakan tugasnya atau pekerjaannya yang didelegasikan dari atasan dengan efektif dan efesien. Lebih lanjut beliau mengungkapkan bahwa kinerja adalah kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam melakukan sesuatu pekerjaan, sehingga terlihat prestasi pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
Sedangkan menurut Gibson, Ivan Cevich dan Donelly bahwa kinerja sebagai prestasi kerja dari perilaku. Prestasi kerja itu ditentukan oleh kemampuan bekerja, baik terhadap cakupan kerja maupun kualitas kerja secara menyeluruh.
Menurut Suryo Subroto yang dimaksud dengan kinerja guru dalam proses belajar mengajar adalah kesanggupan atau kecakapan para guru dalam menciptakan suasana komunikasi yang edukatif antara guru dan peserta didik yang mencakup suasana kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak lanjut agar mencapai tujuan pengajaran.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah kemampuan kerja seseorang yang diwujudkan dalam tingkah laku yang ditampilkan. Apresiasi pemahaman serta kemampuan bertingkah laku sesuai harapan dapat diidentifikasikan sebagai faktor kerja, kemampuan kerja yang tinggi atau rendah dapat terlihat dari apa yang telah dicapai dan prestasi yang diperoleh dalam suatu pekerjaan.
Dengan demikian yang dimaksud dengan kinerja guru dalam tesis ini adalah sebagai keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang bermutu, meliputi aspek: kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan metode, menguasai bahan pelajaran dan menggunakan sumber belajar, bertanggung jawab memantau hasil belajar mengajar, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam melaksanakan pengajaran, melakukan interaksi dengan murid untuk menimbulkan motivasi, kepribadian yang baik, jujur dan obyektif dalam membimbing siswa, mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan pemahaman dalam administrasi pengajaran.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru
Payaman J. Simanjuntak dalam bukunya “Manajemen dan Evaluasi Kinerja” menyebutkan bahwa kinerja setiap orang dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya sebagai berikut:
a. Kompetensi Individu
Kompetensi individu adalah kemampuan dan keterampilan melakukan kerja. Kompetensi setiap orang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu; pertama, kemampuan dan keterampilan kerja. Kedua, motivasi dan etos kerja.
Secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (Knowledge + skill). Artinya pegawai yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannnya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan.
Pendidikan dan pelatihan merupakan bagian dari investasi sumberdaya manusia (human investment). Semakin lama waktu yang digunakan seseorang untuk pendidikan dan pelatihan, semakin tinggi kemampuan atau kompetensinya melakukan pekerjaan, dan dengan demikian semakin tinggi kinerjanya.
Sedangkan motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja).
Motivasi dan etos kerja sangat penting mendorong semangat kerja. Motivasi dan etos kerja dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, lingkungan masyarakat, budaya dan nilai-nilai agama yang dianutnya. Seseorang yang melihat pekerjaan sebagai beban dan keterpaksaan untuk memperoleh uang, akan mempunyai kinerja yang rendah. sebaliknya, seseorang yang memandang pekerjaan sebagai kebutuhan, pengabdian, tantangan dan prestasi, akan menghasilkan kinerja yang tinggi.
David C. McClelland dalam Mangkunegara berpendapat bahwa ada hubungan yang positif antara motivasi berprestasi dengan pencapaian kinerja. Menurutnya ada 6 (enam) karakteristik dari pegawai yang memiliki motivasi berprestasi tinggi; pertama, memiliki tanggungjawab pribadi yang tinggi. Kedua, berani mengambil resiko. Ketiga, memiliki tujuan yang realistis. Keempat, memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisasikan tujuannya. Kelima, memanfaatkan umpan balik (feed back) yang konkret dalam seluruh kegiatan kerja yang dilakukannya. Keenam, mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogramkan.
b. Dukungan organisasi
Kinerja setiap orang juga tergantung pada dukungan organisasi dalam bentuk pengorganisasian, penyediaan sarana dan prasaran kerja, pemilihan teknologi, kenyamanan lingkungan kerja, serta kondisi dan syarat kerja.
c. Dukungan manajemen
Kinerja setiap orang sangat tergantung pada kemampuan manajerial para manajemen atau pimpinan, baik dengan membangun sistem kerja dan hubungan industrial yang aman dan harmonis, maupun dengan mengembangkan kompetensi pekerja, demikian juga dengan menumbuhkan motivasi dan memobilisasi pegawai untuk bekerja secara optimal.
Sedangkan menurut PP RI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan bahwa kemampuan (ability) guru sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja dalam mencapai keberhasilan proses belajar mengajar mencakup empat macam, meliputi:
1) Kemampuan Pribadi
Kemampuan pribadi adalah kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan merinci kemampuan pribadi guru meliputi:
a) Kemantapan dan integrasi pribadi
b) Peka terhadap perubahan dan pembaharuan
c) Berfikir alternatif
d) Adil, jujur, dan objektif
e) Disiplin dalam melaksanakan tugas
f) berusaha memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya
g) Simpatik, menarik, luwes, dan bijaksana
h) berwibawa

Sedangkan Moh. Uzer Usman menerangkan bahwa kemampuan pribadi guru meliputi hal-hal berikut:
a) Mengembangkan kepribadian
b) Berinteraksi dan berkomunikasi
c) Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan
d) Melaksanakan administrasi pendidikan
e) Melaksanakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran

Kemampuan pribadi menjadikan guru dapat mengelola dan berinteraksi secara baik serta mengelola proses belajar mengajar. Guru juga harus mempunyai kepribadian yang utuh karena bagaimanapun guru merupakan suri tauladan bagi anak didiknya.
2) Kemampuan professional
Kemampuan profesional adalah kemampuan dalam penguasaan akademik yang diajarkan dan terpadu dengan kemampuan mengajarnya sekaligus, sehingga guru memiliki wibawa akademis.
Menurut Cece Wijaya, kemampuan profesional guru meliputi:
a) Menguasai bahan
b) Mengelola program belajar mengajar
c) Mengelola kelas
d) Menggunakan sumber media pengajaran
e) Menguasai landasan pendidikan
f) Mengelola interaksi belajar mengajar
g) Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
h) Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan
i) Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
j) Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan untuk keperluan pengajaran.

Kemampuan profesional guru penting dalam hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar dan hasil belajar siswa karena proses belajar mengajar dan hasil belajar yang diperoleh oleh siswa tidak hanya ditentukan oleh sekolah. pola dan struktur serta isi kurikulumnya juga akan dapat ditentukan oleh kemampuan guru yang mengajar dalam membimbing siswanya.
3) Kemampuan Sosial
Kemampuan sosial adalah kemampuan yang berhubungan dengan bentuk partisipasi sosial seorang guru dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat tempat ia bekerja, baik secara formal maupun informal, meliputi:
a) Terampil berkomunikasi dengan peserta didik
b) Bersikap simpatik
c) Dapat bekerjasama dengan guru bimbingan konseling
d) Pandai bergaul dengan kawan sejawat dan mitra pendidikan.

4) Kemampuan Pedagogik
Kesimpulannya, bahwa guru sebagai makhluk yang dibekali potensi kemampuan tertentu, dan untuk mengaplikasikan serta mengembangkan kemampuan tersebut diperlukan suatu latihan dan pendidikan. guru harus memiliki kompetensi dan profesional dalam bidangnya, maka ia memiliki kriteria-kriteria seperti yang dijelaskan di atas.

c. Faktor-Faktor yang dapat Meningkatkan Kinerja
Setiap perusahaan selalu berusaha meningkatkan kinerja pegawai semaksimal mungkin dalam batas-batas kemampuannya. Timbul pertanyaan di sini, bagaimana cara meningkatkan kinerja pegawai semaksimal mungkin. Hal ini dinilai sangat penting, sebab dengan dana dan kemampuan yang terbatas kita harus memilih suatu cara yang paling tepat untuk dapat meningkatkan kinerja semaksimal mungkin.Pola seperti ini pun berlaku dalam organisasi pendidikan.
Menurut Payaman J. ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kinerja seseorang. Faktor-faktor tersebut meliputi sebagai berikut:
1) Pendidikan dan latihan
Pendidikan di sini meliputi pendidikan formal dan non formal. Pendidikan baik formal maupun non formal merupakan prasyarat untuk mempertahankan martabat manusia. Melalui pendidikan pegawai diberi kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuannya. Dengan pendidikan berarti keahlian dan keterampilan pegawai meningkat maka diharapkan pegawai tersebut bisa mencapai prestasi yang maksimal dalam bidang tugasnya.
Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi memungkinkan dia untuk bekerja lebih produktif daripada orang lain yang tingkat pendidikannya rendah, hal ini dikarenakan orang tersebut mempunyai cakrawala atau pandangan yang lebih luas sehingga mampu untuk bekerja atau menciptakan lapangan kerja.
2) Gizi dan Kesehatan
Makanan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi dalam rangka kelangsungan hidupnya. Untuk menjaga kesehatan diperlukan makanan yang memenuhi persyaratan kesehatan, yaitu makanan yang mengandung gizi yang cukup. Seseorang yang dalam keadaan sehat atau kuat jasmani dan rohaninya akan dapat berkonsentrasi dalam pekerjaannya dengan baik, sehingga produktivitas yang dicapai pegawai tersebut menjadi tinggi.
3) Motivasi internal
Motivasi merupakan proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu. Sehingga dapat diartikan bahwa kinerja seseorang tergantung pada motivasi orang tersebut terhadap pekerjaan yang dilakukan.
4) Kesempatan kerja
Kesempatan kerja dapat mempengaruhi kinerja. Kesempatan kerja dalam hal ini berarti (dalam artian mikro) meliputi; pertama, adanya kesempatan untuk bekerja. Kedua, pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan keterampilan pekerja (The right man on the right place). Ketiga, adanya kesempatan untuk mengembangkan diri, hal ini akan dapat menjadikan pegawai menjadi lebih kreatif.
5) Kemampuan manajerial pimpinan
Perusahaan adalah suatu tempat dimana orang-orang memperoleh pengalaman kerja dan kesempatan meningkatkan keterampilannya. Tanggungjawab peningkatan keterampilan seperti itu sebagian besar tergantung pada pimpinan.
Dengan demikian faktor manajemen sangat berperan dalam meningkatkan kinerja, baik secara langsung melalui perbaikan pengorganisasian dan tata prosedur yang memperkecil pemborosan, maupun secara tidak langsung melalui penciptaan jaminan kesempatan bagi seseorang untuk berkembang, penyediaan fasilitas latihan, perbaikan penghasilan dan jaminan sosial.
6) Kebijaksanaan pemerintah
Usaha peningkatan kinerja sangat sensitif terhadap kebijaksanaan pemerintah di bidang produksi, investasi, perizinan, usaha, teknologi, moneter, fiskal, distribusi dan lain-lain. Pola ini juga ada dalam kinerja guru.
Menyangkut faktor-faktor yang dapat meningkatkan kinerja ini, Nitisemoto berpendapat bahwa ada beberapa hal yang dapat dilakukan, meliputi:
1) Gaji yang cukup
2) Memperhatikan kebutuhan rohani
3) Sesekali perlu menciptakan suasana santai
4) Harga diri perlu mendapatkan perhatian
5) Tempatkan pegawai pada posisi yang tepat
6) Berikan kesempatan kepada mereka untuk maju
7) Perasaan aman menghadapi masa depan perlu diperhatikan
8) Usahakan karyawan mempunyai loyalitas
9) Pemberian insentif yang terarah
10) fasilitas yang menyenangkan



d. Kinerja Guru dalam Proses Belajar Mengajar
Seorang guru selalu dituntut memiliki kinerja yang baik, karena ia merupakan pelaku utama dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk meningkatkan kinerja guru diperlukan beberapa kemampuan yang perlu dimiliki dalam mengelola pengajaran. Kinerja guru ini dapat dicerminkan dari kemampuannya melakukan perencanaan pengajaran, keterampilan mengajar, dan kemampuannya mengelola hubungan antarpribadi.
Proses dalam pengertian di sini merupakan intruksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lainnya saling berhubungan dalam ikatan untuk mencapai tujuan.
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan batasan dan makna yang terkandung dalam belajar, yaitu perubahan seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh menjadi pintar, dari tidak bisa menjadi bisa, dan dari kurang terpelajar menjadi terpelajar. Dengan kata lain kriteria keberhasilan dalam belajar di antaranya ditandai dengan terjadinya perubahan pengetahuan, sikap, keterampilan, dan tingkah laku pada individu yang belajar.
Belajar mengajar merupakan suatu proses dan bukan merupakan suatu hasil. Oleh karena itu belajar berlangsung secara aktif dan interaktif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai tujuan. Mengajar menurut Uzer Usman pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kebaikan.
Menurut definisi modern, mengajar dapat diartikan dengan”Teaching as the guidance of learning”, yang berarti suatu bimbingan pada anak-anak dalam proses belajar dan posisi guru hanya sebagai pembimbing, penunjuk jalan dengan memperhatikan kepribadian anak dan keaktifan yang lebih ditekankan pada anak.
Dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah tingkat dan fase yang dilalui anak dalam mempelajari sesuatu melalui bimbingan yang diberikan oleh pendidik untuk menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri anak, baik pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Jadi kinerja guru dalam proses belajar mengajar adalah berkaitan dengan pelaksanaan tugasnya sebagai seorang pendidik yang profesional baik secara kualitatif maupun kuantitatif, memiliki kompetensi, dan keterampilan dalam mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien.

2 komentar:

  1. mohon izin copy-paste untuk bahan referensi tesis. terimakaksih...

    BalasHapus
  2. Andika Musyafak14 Juni 2014 20.27

    Assalamaualaikum..mohon izin menyalin artikel sbg bahan referensi, smoga brmanfaat, terimakasih...

    BalasHapus